Cari Blog Ini

Selasa, 01 Desember 2015

Peran Mucosal-associated Invariant T-Cells dalam Imunitas terhadap Salmonella typhi

Demam tifoid masih menjadi masalah di negara-negara berkembang. Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang penularannya terjadi secara fekal-oral. Bakteri yang berhasil melewati asam lambung akan menempel pada sel M dan epitel usus. Invasi ini direspons oleh berbagai sel seperti sel neutrofil, sel makrofag, sel T, dan sel B. Sel MAIT sebagai bagian dari sel T yang terletak di mukosa usus mempunyai peran penting dalam usaha eliminasi Salmonella typhi. Sel MAIT mempunyai TCR Vα7.2 yang bisa mengenali produk antara sintesis ribofl avin Salmonella typhi yang terikat oleh MR1. Sel MAIT diaktifkan dengan adanya ikatan antara TCR dengan ligannya, ikatan antara molekul asesori CD80 atau CD86 dengan CD28, dan ikatan antara IL-12 dan 18 dengan IL-12R dan IL-18R. Sel MAIT yang aktif mengeliminasi bakteri dengan cara mengeluarkan sitokin, perforin, dan granzim.

Jumat, 19 Juni 2015

AUTOANTIBODI TERHADAP IMUNOGLOBULIN G YANG TELAH DIMODIFIKASI OLEH REACTIVE OXYGEN SPECIES PADA PASIEN DM TIPE 1

Radikal hidroksil (OH) mampu membuat kerusakan yang berat pada imunoglobulin g (IgG). Kerusakan IgG menjadikan strukturnya berubah dari struktur normal. Kondisi ini menyebabkan munculnya neo-epitope yang menyebabkan IgG menjadi sebuah imunogen sehingga memicu dibentuknya autoantibodi terhadap IgG.

Rujukan:
Rasheed N, Ansari NA,  Kumar L, Tripathi T,  Ahmad R, Rasheed Z., 2011, Autoantibodies against reactive oxygen species modified immunoglobulin G in patients with type 1 diabetes mellitus, J. Clin. Immunol. Immunopathol. Res., 3(1):10-9 http://www.academicjournals.org/article/article1379695291_Rasheed%20et%20al..pdf

Selasa, 16 Juni 2015

EFEK PENGGUNAAN OMEPRAZOL JANGKA PANJANG



Penggunaan obat-obatan selalu diikuti dengan risiko efek samping dari obat yang bersangkutan, meskipun efek samping obat tidak selalu terjadi. Dalam hal penggunaan omeprazol (obat untuk sakit maag) juga ada risiko efek samping obat. Satu sampai 10% pengguna omeprazol mengalami efek samping obat. Diantara efek samping omeprazol adalah sakit kepala (7%), nyeri perut (5%), Diarrhea (4%), mual (4%), muntah (3%), kembung (3%), pusing (2%), infeksi saluran pernafasan atas (2%), regurgitasi asam lambung (2%), sulit berak (2%), bercak merah pada kulit (2%), dan batuk (1%).1
          
  Penggunaan omeprazol dalam jangka panjang juga berisiko untuk terjadinya efek samping. Efek penggunaan omeprazol jangka panjang adalah:
  1. Memicu terjadinya polip lambung meski polip akan mengecil setelah penggunaan omeprazol dihentikan
  2. Menghambat penyerapan obat


Akan tetapi tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa penggunaan omeprazol jangka panjang menyebabkan kanker lambung, defisiensi vitamin dan mineral (kecuali pada pasien tua), pengeroposan tulang, infeksi paru, infeksi saluran cerna, dan gangguan ginjal.2,3

DAFTAR PUSTAKA
  1. Omeprazole. Medscape. http://reference.medscape.com/drug/prilosec-omeprazole-341997#4. 2015
  2. Johnson DA, Oldfield EC., Reported Side Effects and Complications of Long-term Proton Pump Inhibitor Use. Clinical Gastroenterology and Hepatology, 2013;11(5):458-464.
  3. Thomson ABR, Sauve MD, Kassam N, Kamitakahara H., Safety of the long-term use of proton pump inhibitors. World Journal of Gastroenterology, 2010; 16(19): 2323-2330

Kamis, 12 Februari 2015

Buku ini membahas tentang imunitas alamiah dengan lengkap. Mulai dari molekul, sel, jaringan, dan organ penyusun sistem imun, pengenalan non self dan pengaruh non self terhadap sistem imun, pembagian respon imun, dan inflamasi yang meliputi macam-macam inflamasi, resolusi inflamasi, manfaat inflamasi, dan efek negatif inflamasi. 

Bila berminat bisa in Box di FB safari wahyu jatmiko

Sabtu, 19 Juli 2014

Kesuksesan Sebagai Dokter Dimulai Sejak dalam Pendidikan

Tugas utama dokter saat ini adalah menegakkan diagnosis dari sakit yang dialami oleh pasiennya. Sehingga dengan tegaknya diagnosis akan memberi petunjuk tentang obat apa yang akan diberikan kepada pasiennya. Artinya bila diagnosis benar maka obat yang diberikan pun benar. Sebaliknya, jika diagnosis salah maka obat yang diberikan juga akan salah.

Dari pengantar di atas tampaklah dua hal yang harus dikuasai oleh dokter, yakni pengetahuan untuk menegakkan diagnosis dan pengetahuan tentang obat-obatan. Hanya mengetahui salah satunya saja maka tidak cukup untuk mengantarkan seorang pasien mendapatkan pelayanan yang baik. Selain itu, hanya mengetahui salah satu dari dua hal tersebut membuat seseorang tidak layak disebut sebagai dokter. 

Untuk mampu menegakkan diagnosis dengan benar maka dokter harus mengetahui tanda dan gejala dari sebuah penyakit serta ia harus mahir dalam hal anamnesis dan pemeriksaan fisik. Sedangkan untuk mengetahui tanda dan gejala serta interpretasi dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, maka dokter haruslah mengetahui tentang patogenesis dan patofsiologi dari penyakit tersebut. Dan dokter tidak akan menguasai patogenesis dan patofisiologi dengan baik bila ia tidak mengetahui ilmu-ilmu dasar kedokteran. 

Dari sisi terapi yang diberikan, maka tidaklah cukup bagi dokter hanya mampu memilih bahwa obat A merupakan terapi untuk penyakit X. Ia harus mengerti tentang farmakokinetik, farmakodinamik, posologi, interaksi obat, dan efek samping dari sebuah obat. Pengetahuan-pengetahuan tentang hal-hal itu penting agar dokter mampu memilihkan obat yang tepat untuk pasiennya.

Kesimpulannya adalah: pengetahuan-pengetahuan untuk menegakkan diagnsois dan terapi bagi seorang pasien didapatkan dokter ketika menjalani pendidikan. Sehingga penguasaan ilmu-ilmu tersebut saat pendidikan merupakan satu pintu dari berbagai pintu untuk menjadi dokter yang sukses

Selasa, 17 Juni 2014

Pegloticase for Treating Chronic Gout

Hiperurisemia kronis menjadi masalah kesehatan yang banyak dijumpai dalam praktek sehari-hari. Kondisi ini sering menimbulkan berbagai konplikasi seperti Gout Arthritis, thopus, Nefrophati, dan Nefrolitiasis. Berdasarkan hal ini maka perlu dilakukan manajemen (terapi) untuk mempertahankan kadar asam urat plasma dalam keadaan normal. usaha yang dikerjakan adalah dengan mengurangi produksinya atau meningkatkan eksresi asam urat.

Kenyataan bahwa banyak terapi untuk hiperurisemia yang tidak memenuhi harapan pasien dan dokter, maka berbagai pihak berusaha untuk mendapatkan obat baru dalam mengatasi hiperurisemia. Hasil dari usaha ini adalah ditemukannya Pegloticase untuk terapi hiperurisemia yang gagal diterapi dengan allopurinol.

Pegloticase adalah Urat Oxidase mamalia yang direkayasa dengan menambahkan PEG (Poli Etilen Glikol) pada enzim ini. Berdasarkan proses penambahan ini maka nama obat yang terbentuk disebut dengan pegloticase. Ketersediaan obat Pegloticase dalam darah sangat baik bila diberikan melalui intravena daripada sub cutan. Karena masa kerja yang panjang, maka hanya diperlukan pemberian 1 kali setiap 2-4 minggu.  

Mekanisme kerja pegloticase adalah mengubah asam urat menjadi allantoin yang lebih larut sehingga bisa dibuang lewat ginjal.

Rujukan
Sundy JS, Becker MA, Baraf HSB, Barkhuizen A, Moreland LW, Huang W, Waltrip RW,  Maroli AN, Horowitz Z,Reduction of Plasma Urate Levels Following Treatment With Multiple Doses of Pegloticase (Polyethylene Glycol–Conjugated Uricase) in Patients With Treatment-Failure Gout, Arthriris & Rheumatism
Vol. 58, No. 9, September 2008, pp 2882–2891

Sundy JS,  Ganson NJ, Kelly SJ, Scarlett EL, Rehrig CD, Huang W, Hershfield MS, Pharmacokinetics and Pharmacodynamics of Intravenous PEGylated Recombinant Mammalian Urate Oxidase in Patients With Refractory Gout, Arthriris & Rheumatism Vol 56, No. 3, Maret 2007, pp 1021–1028

Minggu, 15 Juni 2014

Febuxostat For Treating Chronic Gout

Acute Gout Arthritis adalah peradangan sendi akut akibat penumpukan kristal sodium monourat di dalam sendi atau jaringan sekitar sendi. Kondisi ini sangat terkait dengan hiperurisemia. Apabila hiperurisemia berlangsung kronis, maka akan terjadi kerusakan sendi dan penimbunan kristal urat diberbagai tempat. 

Usaha mengobati hiperurisemia dilakukan dengan pemberian allopurinol. Sayangngya obat ini sering menimbulkan Allopurinol Hypersensitivity Syndrome yang mengancam jiwa disamping pada beberapa kasus tidak memenuhi harapan dalam menurunkan kadar asam urat dibawah 6 mg/dl (menurut European League Againts Rheumatism) ataupun 5 mg/dl (menurut British Society for Rheumatology). Keadaan ini mendorong para ahli untuk menemukan obat baru dalam pengobatan gout kronis, salah satunya adalah Febuxostat.

Febuxostat adalah inhibitor Non Purin Xanthin Oxidase yang bekerja selektif dan sangat poten dibandingkan allopurinol. Ia tidak mengganggu enzim lain dalam metabolisme purin maupun pirimidin.

Secara farmakokinetik, Febuxostat diserap dengan baik dalam pemebrian oral. 84% Febuxostat diabsorbsi dari GIT dan absorbsi ini tidak terlalu dipengauhi oleh makanan ataupun antasida. Febuxostat yang terabsorbsi akan memasuki aliran darah dan berikatan dengan albumin didalam darah. Febuxostat didegradasi didalam hati dan disekresikan melalui feces dan urin, hanya 5 % febuxostat dieksresi dalam bentuk utuh. Waktu paruh obat ini adalah 5-8 jam.

Febuxostat dapat diberikan bersamaan dengan obat untuk terapi GA yang lain seperti NSAID dan kolkisin, ia juga bisa digunakan bersamaan dengan warfarin dan hidroklorotiazid karena tidak berinteraksi dengan obat-obat tersebut. Akan tetapi sebaiknya tidak digunakan bersamaan dengan 6-mercaptopurine.

Febuxostat terbukti lebih baik dalam menurunkan kadar alopurinol serum dibawah 6 mg/dl (EULAR) ataupun dibawah 5 mg/dl (BSR). Dosis yang dipakai adalah 80 mg dan bisa dinaikkan menjadi sampai 120 mg dalam 2 minggu bila efek yang diinginkan belum tercapai. Akan tetapi tetap diperlukan terapi profilaksis (Kolkisin atau NSAID) untuk mencegah kekambuhan GA. (Edwards NL 2009)

Meskipun demikian, menurut Tayar JH et al 2012, menginagat the Grade of Evidence dalam penelitian oleh Edwards NL berkisar antar rendah sampai tinggi, maka diperlukan penelitian lebih lanjut untuk meyakinkan akan keefektifan dan keamanan penggunaan Febuxostat untuk terapi Hiperurisemia kronis pada pasien GA.

Rujukan